Duniaku bukanlah Duniamu sayang !!
Tasbihku bukan kalung salibmu..
Dahi yang kusungkurkan, bukanlah wajah yang kau hadapkan pada patung yesusmu..
aku tahu, Tuhan kita tak mengehedaki, tapi hati kita yang terus merasuki
aku tahu, Tuhan kita tak memberkati, tapi perasaan kita terus menyelinapi
dimana letak keadilan ini sayang? mengapa Tuhan memberi rasa ini, padahal Dia tak memberkati..
kemana arah kehidupan ini sayang, jika kita terus merajuti..
bagaimana kita melanjutkannya sayang, jika hati ini tak pasti untuk dipungkiri
kita tak mungkin membakar kenangan ini, kita tak mungkin merendam Cinta ini, dan kita tak mungkin menyayat hati ini pada kepedihan.
Kita tahu, perbedaan agama menjadi halangan untuk bersatu,
kita tahu, kita TAK SAH !!! KITA TAK BAKAL MENYATU!!
kita hanya sebatas daun yang menunggu angin untuk mengabisi.
hatiku, hatimu
rasamu, rasaku
tapi kita tak bisa merayu untuk dapatkan yang jitu.
kita kubur saja rasa ini, rasa yang terasa teracuni, rasa yang terasa kau bodohi..
bukan..bukan kau bodohi, tapi kita berdua yang bodoh..
aku taat pada Al-qur'an ku, dan kau taat pada Injil-Mu
Aku mengerti pada Tulisan Arabku, dan kau paham pada firman yang tertera di dalam kitabmu
kita tak memahami, sebuah rasa terus menerjang badai badai yang merobak hati ini.
sudah pasti kita tak bersatu, mengapa kita tak bisa memungkiri ?
Bukan Tuhan yang salah, tapi Hati kita yang salah..
Ini hanya tipuan Dunia, Ini hanya Nafsu yang merajai kita sayang..
Aku lah Batu, yang sedia menunggumu. sampai tak ada waktu, membuat kita Menyatu. Seperti DULU
Senin, 07 September 2015
Selasa, 09 Juni 2015
Pemuja Rahasiamu
Pemuja rahasia
Aku ingin menggapai cintamu. Aku lah pemuja rahasiamu yang
malu-malu ketika berada didekatmu bahkan mengeliat raut wajahmu. Aku lah batu,
yang setiap saat menunggu meretak.aku lah karang yang selalu kau alirkan
benih-benih cinta , namun kau hanya sekedar melewatinya. Dan ketika aku begitu
setia menjadi pemuja rahasiamu, yang terlalu lelah membuat banjiran air mata.
Ketika diam-diam kau menghantam hatiku dibalik layar. Sungguh, begitu mudah kau
ungkapkan perasaan pada yang lain, namun aku takut, masih malu mendekatimu.
Ada begitu juta-jutaan rasa yang masih terbungkus rapi di
sela-sela hati, sampai aku serasa menjadi tokoh dalam cinderella, yang beribu
indahnya memilikmu, itu hanya hayalanku semata.
Aku masih pemuja rahasiamu, yang berdiri diam di halte
sepanjang hari dan kau hampiri lalu pergi dan aku bahagia. Aku sadar, mungkin
hanyalah angin yang tau dibalik semua
rasa ini, aku lah pengincar kekaguman terhadap mu. Tapi aku hanya ingin
memasitikan kau akan setia menjadi seorang yang kupuja-puja rahasia sampai
kapanpun. Aku yakin bahkan lebih yakin, cintaku tak akan pernah terbalas, tapi
aku tetap bersikeras mencoba mendekat walau tak membuat semuanya jadi dekat.
Aku pemuja rahasiamu yang tak pernah akui rasa kagum pada
orang selain dirimu.
Kamis, 26 Februari 2015
Surat rantauan Ibu
Kerlip bintang dimalam hari
Mengantarkan jiwa mengraungi samudra
Meninggalkan jejak bersama cerita
Demi melaikat kecilku oh anakku..
Kerlip bintang terus mengedip
Dalam do’a hati terus berlirih
Dalam sujud mata terus tertatih
Merindukan kenangan yang terpatri dihati
Bundamu disini...
Merengkuh angan yang jauh darimu
Mengais sebongkah harta untukmu
Mengantar kebahagiaan kedepanmu
Bunda disini nak..
Merindukan sepenggal tawamu
Mengingat sepucuk kemanjaanmu
Sebab ibu tahu
Rabu, 17 Desember 2014
Untuk apa aku terus begini ?
Malam semakin larut dalam gelapnya, dingin..dingin terus menusuk dari sela-sela
rongga tulang rusukk, hingga angin tak pernah pedulikan perasaan.
Untuk apa aku terus terus begini, meratapi
jejakmu yang tak akan kembali.
Untuk apa aku terus begini ? lama-lama
mengingat dirimu yang tak pernah hargai rasaku.
Dan untuk apa aku terus menyendiri? Jika
jejakmu pun tak pernah lagi ada didepan pelupuk mataku.
Dimana semuanya? Semuanya yang perna ada?
Terutama kamu? Yang datang tumbuhkan perasaan, dan hilang tinggalkan kepedihan.
Untuk apa aku berlama-lama begini? Jika waktu
tak akan mengulur waktu seperti dulu
Sepucuk Surat Perpisahan
Dalam kesunyian
ini, ketikan tangganku terus merangkai kata perkata perpisahan ku terhadapmu.
Memanglah bukanlah apa, tapi hanya kata inilah yang dapat membuat kita merindu
dikala hati telah berkata.
Kita hidup berawal
dari kesendirian, kesendirian hati, kesendirian jiwa, juga kesendirian yang ada
didunia ini. Kita juga hidup berawal dari senyuman, entah senyuman dalam arti
apa, yang jelas senyuman yang dapat mengalahkan semua kesendirian it menjadi
indah dan nyaman. Hidup didunia ini tidak harus penuh dengan kenangan,
tapi hanya perlu diingat tentang apa
yang sudah lama dan terlalu jauh untuk diingat hingga kita tekadang sulit untuk
menginggatnya.
Aku yakin, dengan
coretan rangkaian kata ini, kamu akan merintikkan seberkas tetesan air mata,
jari jarimu yang terus mengusap disela-sela mata jerahmu. Dan aku yakin, kamu
pasti akan terus menggali inggatan yang tak begitu teringat hingga benih
kristalmu rela kau jatuhkan demi ketidakwajaran. Berjanjilah, kamu tidak akan
mengingat terlalu dalam, karna inggatan itu tidak akan merubah semuanya menjadi
baik, bahkan menjadi kelam tak membekas.
Didunia ini penuh
dengan peripisahan, karna perpisahan adalah salah satu cara dunia ini berubah,
karna apa? Karna dunia juga ingin kita untuk memperbarui semua hal yang ada di
hidup kita. Dunia ini semata bukan hanya untuk tempat meratapi masa lalu, masa
yang pernah menjadi semiliran hati. Kamu juga tau, aku juga tau. Setiap
pertemuan pastilah ada perpisahan, tidak tau itu kapan, karna kita bukanlah
manusia yang dapat melebihi kelebihan-Nya. Kamu tau, apa makna perpisahan itu?
Makna yang dimana membuat kita terus menyeka butiran air mata, makna yang
dimana kita selalu terhantui pada kerinduan yang mendalam, makna dimana kita
tak pernah berehenti untuk lelah menginggatnya, makna dimana kita terus ada
pada masa lalu.
Kita tak akan hidup
dimasa lalu, masa yang tak akan kembali . kita telah dewasa hingga kita dengan
mudah menyikapi hal tentang cinta, tapi kita terlalu sulit untuk menyikapi hal
perpisahan. Karna apa? Karna perpisahan itu memenglah menyakitkan, karan
perpisahan pastilaha ada unsur kecintaan, kesayangan, dan keterpedulian.
Perpisaan itu
membosankan, bukankah kita sudah pernah mengalami perpisahan yang terulang kali
terjadi? Mengapa kita harus menangapnya secara berlebihan, karena apa? Karna
perpisahan ini terlalu manis, dan hanya ada disalam hidup kita satu untuk
selamanya. Memanglah bukan apa, tapi perepisahan ini begitulah manis, hingga
gula yang tak pernah teraduk dalam larutan teh.
Disetiap sudut,
kita termenung, termenung dalam kejenuhan hati, termenung dalam keisauhan hati.
Kenapa kita tidak termenung untuk kebahagiaan? Karna apa? Karna kita terlarut
dalam pilu nya perpisahan. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, hari, tahun,
bahkan abad, kita ada, ada dalam lingkupnya perpisahan yang terus mengalir tak
henti-hentinya menyengintkan hati.
Aku Rindu
Langit begitu sedih, petang ini.
Hingga langit menenggis tak berhenti
Sore ini, mulai mengelap.
Sore ini, mataku terpaku menatap dereta hujan yang
begitu menyakitkan.
Duduk dengan pena yang memaksau menulis cerita sedih
tanpa harimu malam ini, juga esok lusa.
Fikirku terus terpukau pada masa yang hampir saja tak
ku ceritakan hingga jadi kenangan.
Mengapa harus begini ?
Kamu sengaja tinggalkan aku sendiri, kamu tahu? hanya
karna kamu aku bisa bertahan disini.
Kamu selalu datang hampiri ku disaat mulutku membisu.
Kamu selalu datang hampiriku saat aku sendiri.
Kamu selalu datang hampiriku saat aku duduk seperti
yang ku lakukan sekarang
Itu dulu.. bukan dulu, tapi kemarin
Tidak ada seorang pun yang dapat mengeti perasaanku...
tidak, duia in begitu kejam.
Aku sempat berfikir, kenapa kita harus dekat? Aku tak
mengatakan dan mempertanyakan kenapa kita harus kenal, sebab kita memang
ditaqdirkan untuk berkenalan juga berteman, namn mengapa kita dekat, apakah itu
taqdir atau hanya seiring berjalannya waktu.
Aku mulai mencoba melupakan , bukan melupakan sutuhnya
cerita kenangan itu, tapi melupakan sedih, jenuh, sepi ini yang terus mengusik
disela-sela kesendirian yang ku urungi.
AKU RINDU.. :’(
18:56
Langganan:
Postingan (Atom)


